Selasa, 09 Juli 2013

KEBERHASILAN IMUNISASI

imunitas dalam tubuh di bagi menjadi 2, yakni :

1. imunitas alamiah

2. imunitas dapatan imunitas dapatan seperti pemberian imunisasi sangan baik utk kesehatan, dan memounyai kinerja yg lebig baik dibandingkan dengan imunitas alamiah. imunitas dapatan lebih diperankan oleh limfosit b yang akan mengkhususkan diri menjadi imunoglobin imunoglobin tertentu, seperti IgA, IgE, IgM, IgD, IgG.


KEBERHASILAN IMUNISASI 
Tergantung dari:
 a Status imun penjamu
Kekebalan vaksinasi memerlukan maturasi imunologik. Pada bayi neonatus fungsi makrofag masih kurang, fungsi sel T (T Supresor) relative lebih menonjol dibandingkan dengan bayi atau anak karena fungsi imun masa intra uterin lebih di tekankan pada toleransi dan hal ini dapat terlihat pada saat bayi baru lahir. Pembentukan antibody spesifik terhadap antigen tertentu masih kurang di bandingkan anak. Maka bila imunitas diberikan sebelum bayi berumur 2 bulan jangan lupa memberikan imunisasai ulangan. Status imun mempengaruhi pula hasil imunisasi. Individu yang mendapat obat imunosupresan, menderita defisiensi imun sekunder seperti penyakit keganasan. Demikian pula individu yang menderita penyakit siang stemik seperti campak, tuberculosis akan mempengaruhi keberhasilan imunitas. Keadaan gizi buruk akan menurunkan fungsi sel system imun seperti makrofag dan limfosit. Imunitas seluler menurun dan imunitas humoral spesifitasnya rendah. Meskipun kadar globulin normal atau tinggi, immunoglobulin yang terbentuk tidak dapat mengikat antigen dengan baik karena terdapat kekurangan asam amino yang dibutuhkan untuk sintesis antibody. Kadar komplemen juga berjurang dan mobilisasi makrofag berkurang, akibatnya respon terhadap vaksin atau toksoid berkurang.  

b Genetik penjamu
 Interaksi sel imun di pengaruhi oleh variabilitas genetic. Secara genetic respon imun manusia dapat dibagi atas respon baik, cukup dan rendah terhadap antigen tertentu, maka tidak heran bila kita menemukan keberhasilan vaksin yang tidak 100%.

 c Kualitas dan Kuantitas vaksin
Vaksin adalah mikroorganisme atau toksoid yang diubah sedemikian rupa sehingga patogenitas atau toksisitasnya hilang tetapi masih tetap mengandung sifat antigenitas.

Faktor kualitas dan kuantitas vaksin seperti pemberian, dosis, frekuensi pemberian dan jenis vaksin.
a) Cara pemberian vaksin Akan mempengaruhi respon yang timbul. Misalnya vaksin polio oral akan menimbulkan imunitas lokal disamping sistemik, sedangkan vaksin polio parenteral akan memberikan imunitas sistemik saja.
b) Dosis vaksin Terlalu tinggi atau terlalu rendah juga mempengaruhi respon imun yang terjadi. Dosis terlalu tinggi akan menghambat respon imun yang diharapkan, sedang dosis yang terlalu rendah tidak merangsang sel-sel imunokompeten.
 c) Frekuensi pemberian Juga mempengaruhi respon imun yang terjadi. Sebagimana telah kita ketahui, respon imun sekunder menimbulksn sel efektor aktif lebih cepat, lebih tinggi produksinya, dan afinitasnya lebih tinggi. Disamping frekuensi, jarak pemberianpun akan mempengaruhi respon imun yang terjadi. Bila pemberian vaksin berikutnya diberikan pada saat kadar antibody spesifik yang masih tingggi, maka antigen yang masuk segera dinetralkan oleh antibody spesifik yangi masih tinggi sehingga tidak sempat merangsang sel imunokompeten. Bahkan dapat terjadi apa yang dinamakan reaksi Arthus, yaitu bengkak kemerahan di daerah suntikan antigen akibat pembentukan kompleks antigen-antibodi lokal sehingga terjadi peradangan lokal. Karena itu pemberian ulang (booster) sebaiknya mengikuti apa yang dianjurkan sesuai dengan hasil uji klinis.
d) Jenis vaksin Vaksin hidup akan menimbulkan respon imun lebih baik dibandingkan vaksin mati atau yang inaktivasi (killer atau anactivatid) atau bagian (komponen) dari mikroorganisme. Rangsangan sel Tc memori membutuhkan suatu sel yang terinfeksi, karena itu di butuhkan vaksin hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar